Ways to earn

Signup
100.000 Points
Place an order
1 Point for every Rp1 spent
Celebrate a birthday
150.000 Points
Join now
Already have an account? Sign in
Whatsapp
Chat Us Whatsapp

Oleh Theresia Octaviana Butar Butar

 

 

Temper tantrum illustration

Picture source: Metroparent.com

 

Kamu pasti seringkali kebingungan atau bahkan kewalahan menghadapi si kecil yang sedang tantrum. Tantrum bukanlah hal yang bisa dihindari, terutama di saat pademi ini. Jangankan si kecil, kita pun bosan bukan kepalang dengan setiap sudut rumah yang itu-itu saja. Meskipun rumah merupakan tempat ternyaman, tidak bisa dipungkiri bepergian dan bersosialisasi adalah salah satu cara kita mengurangi stress.

Menurut Zaviera (2008) tantrum atau temper tantrum merupakan luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Tantrum umumnya dialami oleh anak berusia 1-4 tahun di mana mereka belum bisa menyampaikan keinginannya. Alih-alih mengekspresikan keinginannya, mereka justru menangis, menjerit-jerit, melempar benda, berguling-guling, atau memukul orang lain.

 

Temper Tantrum berdasarkan Usia

Berdasarkan usia, Zaviera (dalam Rahmatsyah) lebih lanjut mengelompokkan dan mengidentifikasi temper tantrum. Anak usia dibawah tiga tahun umumnya menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik-mekik, melengkungkan punggung, melemparkan badan ke lantai, memukul-mukulkan tangan, menahan napas, membentur-benturkan kepala, dan melempar barang. Sedangkan, temper tantrum pada usia tiga sampai empat tahun semakin beragam. Di antaranya adalah menghentakkan kaki, berteriak, meninju, membanting pintu, mengkritik, dan merengek.

Tentu, kita tidak perlu khawatir dengan keadaan ini karena menurut para ahli temper tantrum merupakan hal yang wajar. Temper tantrum menurut La Forge (dalam Zaviera) disebut sebagai proses perkembangan anak baik fisik, kognitif, maupun emosi. Sebagai periode perkembangan, lanjut Forge, tantrum pasti akan berakhir.

 

Frekuensi Tantrum

Tantrum dinyatakan umum terjadi pada anak. Dilansir Tirto.id, penelitian Potegal dan Davidson di tahun 2003 yang dilakukan pada 335 anak usia 18-60 bulan menyebut Anak usia 18-24 bulan mengalami tantrum sebanyak 87 persen. Anak usia 30-36 bulan paling banyak mengalami tantrum, yaitu sebanyak 91 persen, dan usia 42–48 bulan sebanyak 59 persen.

Davidson, dkk. juga menyebut dalam rata-rata, tantrum berlangsung selama 0,5-1 menit. Sebanyak 75 persen kejadiannya berlangsung 5 menit atau lebih. Durasi rata-rata tantrum pada anak usia 1 tahun adalah 2 menit, 4 menit untuk anak yang berusia 2-3 tahun, dan 5 menit pada anak yang berusia 4 tahun. Artinya, dalam seminggu, anak usia 1 tahun bisa mengalami 8 kali tantrum.

Pada anak berusia 2 tahun, frekuensinya kemudian naik menjadi 9 kali. Lalu, akan terus menurun menjadi 6 kali pada anak yang berusia 3 tahun, dan 5 kali pada anak yang berusia 4 tahun. Daniels dkk menunjukkan bahwa frekuensi tantrum akan berkurang seiring anak bisa mengekspresikan keinginan dan emosinya dalam kata-kata.

 

Bijak dalam Menghadapi Temper Tantrum

 

Temper tantrum illustration

Picture source: therealisticmama.com

 

Meski disebut hal yang normal, dibutuhkan pemahaman dan cara yang tepat dalam menghadapi si kecil yang sedang tantrum. Pasalnya, cara kita menghadapi tantrum mereka hari ini, dapat berdampak pada psikologis si kecil dan perilakunya di masa depan kelak. Perlu diketahui, durasi tantrum yang wajar terjadi paling lama 15 menit dan kurang lebih lima kali sehari. Setelahnya, tantrum pada anak akan reda dan suasana hati akan kembali normal.

 

  • Tetap Tenang

Dikurasi dari Children’s Hospital of Philadelphia dan Tirto.id, orang tua pertama-tama harus tenang dalam menghadapi anak yang sedang tantrum. Walaupun teriakan dan tangisan mereka mungkin mengganggu kita yang juga sedang stress memikirkan pekerjaan atau pandemi, jangan sekali-kali memarahi atau memukul mereka saat tantrum karena akan berdampak pada psikologis anak. Si kecil akan mulai merasa bahwa meluapkan emosi dan mengekspresikan keinginan mereka adalah suatu kesalahan. Padahal, yang perlu kita ajarkan adalah bagaimana mengekspresikan emosi dan keinginan mereka dengan cara yang baik.

 

  • Biarkan Mereka Sendiri

Kemudian, berikan si kecil waktu untuk meluapkan emosinya. Biarkan mereka sendiri dan meluapkan emosi sambil perhatikan dan cari tahu apa yang menjadi penyebab tantrumnya. Psikolog Ratih Ibrahim seperti dikutip Tirto.id, menyebut lebih sering terjadi ketika anak lapar, lelah, atau sakit. Maka, salah satu tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan pola makan teratur pada anak atau menjaga keseimbangan aktivitas dan waktu istirahat anak.

 

  • Jangan “Menyogok” Si Kecil

Lalu, Jangan sekali-kali “menyogok” anak dengan makanan atau mainan untuk menghentikan tantrumnya. Anak akan menggunakan perilaku yang sama untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan karena mengetahui akan dapat “imbalan”.

 

Hug the kids after their temper tantrum ended illustration

Picture source: herfamily.ie

 

  • Berikan Pelukan dan Pengertian tentang Cara Mengekspresikan Keinginan

Selanjutnya, yang juga penting untuk diperhatikan, selagi mengabaikan dan memberikan waktu untuk si kecil meluapkan emosinya, awasi barang-barang di sekitarnya dan jangan biarkan mereka menyakiti diri sendiri ataupun orang lain. Setelah dirasa reda, berikan pelukan kepada si kecil serta pengertian tentang cara mengekspresikan keinginan dengan tepat.

 

  • Jika Tantrum Berlanjut, Hubungi Profesional

Meskipun pada umumnya temper tantrum terjadi pada anak usia 1-4 tahun, anak pada usia setelahnya juga tidak jarang mengalami tantrum. Jika tantrum berlanjut pada usia ini dan anak memunculkan reaksi berlebihan dengan menyakiti diri sendiri dan/atau orang lain, juga jika durasi tantrum melebihi 15 menit serta lebih dari lima kali sehari, dan jika suasana hati anak terus memburuk, segera lakukan konsultasi dengan dokter atau para ahli.



***